Bagikan Inspirasimu disini

Monday, October 7, 2019

SOPIR BUS YANG DIRINDUKAN

| Monday, October 7, 2019
Oleh : Aswan

....Untuk kesekian kalinya, saya menaiki bus guna mengantarku kembali ke tanah kelahiran. Transportasi antar kota ini memang masih menjadi idola, mungkin karna tarifnya yang terjangkau.

Dengan jadwal keberangkatan pukul 12 malam dari ibu kota provinsi, sejatinya tak ada masalah apa-apa, kecuali satu. Yakni sholat subuh.

Ya, selama ini saya selalu sholat subuh ditengah laju bus dengan kondisi badan bus yang bergoyang ditambah hembusan angin yang masuk dari jendela yang tak sengaja terbuka. Tak pernah! Hampir tak pernah berjamaah subuh di masjid. Memang, agama Islam memberi keringanan bagi para musafir untuk soal ini.

Hari ini, saya memilih bus berwarna hitam sepertinya belum lama selesai diproduksi alias masih baru. Tak tau diproduksi negara mana, tak penting juga.

Singkat cerita, pukul 04.13 saya terbangun dari terlelap, tak ada yang dipikirkan kecuali harus segera tayamum dan sholat di dalam bus.

WUSHHH!!! Tiba-tiba bus berhenti. Ada apa? Ada penumpang turun kah? Atau mogok kah? ah tak mungkin bus baru ini mogok. Lalu kenapa? Begitu pikirku dan puluhan penumpang lainnya merasa penasaran.

Diposisi paling depan, kulihat pak sopir berdiri dari singgasananya. Di ikuti seorang penumpang yang persis duduk dibelakangnya, juga ikut berdiri lalu keluar bus.

Pamandanganku pun tertuju ke arah kiri, ada sebuah bangunan megah disana. Lampu-lampunya terang benderang. Baru saja dari arah bangunan ini dilantunkan sebuah seruan. Pak sopir bus dan satu penumpang tadi menuju kesana! Iya, bangunan itu saya akrab menyebutnya Masjid.

Tunggu apalagi. Saya langsung menyusul mereka berdua. Tak lama 3 orang berikutnya ikut turun. Ingin pula merasakan nikmat luar biasa ini.

Ya, adalah nikmat besar mendapat kesempatan bersama nakhoda bus bisa berbaris rapi, rukuk dan sujud dengan irama serentak. Ah, andai semua pemimpin dinegeri ini seperti pak sopir.

Buat para sopir bus, yang mungkin membaca tulisan ini. Saya sedang tidak membuat perbandingan, tidak sama sekali. Tapi hanya sekedar menyampaikan apa yang saya pelajari barusan. Yakni tak ada panggilan yang lebih penting selain panggilan Tuhan. Tak ada sejarah rupiah lebih berharga dibanding apa yang Tuhan janjikan di hari kemudian.

Hari ini, sopir bus berkaos hitam dengan celana jeans biru itu telah menjadi guruku. Dan aku akan merindukannya 😊

Related Posts

No comments:

Post a Comment