Bagikan Inspirasimu disini

Wednesday, October 9, 2019

GURU NGAJI, DARI GENERASI KE GENERASI

| Wednesday, October 9, 2019
Oleh: Aswan

Ada yang masih ingat pemandangan ini?
Bergerombol, memacu sepeda, saling berteriak, "ayoo, siapa cepat sampai.."

Laki-laki berpeci dengan baju koko , anak perempuan berjilbab dengan tas selendang berisi Al-Qur'an IQRO'. Tak lama lagi, sautan demi sautan anak2 itu "Assalamu'alaykoom..." akan bergema didepan rumah guru ngaji mereka.

Ya, mereka tengah bersiap belajar Al-Quran pada buk guru ngaji yang baru saja selesai mandi, karna baru datang dari Ume (read : Ladang )

Kemarin, sewaktu pulang ke kampung halaman, saya dapati fenomena langka ini. Meskipun tak lebih dari 2 persen anak se-usia mereka yang turut. Karna sisanya tengah sibuk bermain atau menghadap gadget mereka.

Sungguh pemandangan yang indah. Terharu, saya jadi bernostalgia. Jadi teringat masa kecil dulu. STOP!! Sudah, sudah, bernostalgianya!
Kembali ke laptop.

Anak-anak itu, entah sudah generasi keberapa. Sedangkan guru ngajinya sama. Itu-itu saja. Lantas kemana anak2 generasi sebelumnya? Yah, berhenti. Hilang tanpa kabar, boro-boro mau ucap terima kasih.

Apa sebab?
Apakah guru ngaji minta kenaikan gaji? Hah, yang benar saja! Wong selama ini mereka digaji 1 rupiah saja tidak. Lalu apanya yang mau dinaikan?

Kadang saya juga bingung. Apa yang membuat mereka tetap mau mengajar. Bukankah mereka juga sibuk dengan segala rutinitasnya.

Tapi ada yang lebih mengherankan. Anda tau apa?
Saat orang2 berani membayar semahal-mahalnya agar anak mereka pintar Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Seni, de el el. Sementara untuk belajar Kitab yang menjadi penyelamat di akhirat justru banyak alasan. Bahkan gratis sekalipun!

Maap jika ada yang tersinggung! Tapi realitanya begitu, mau diapakan?

Kembali ke kampung...

Guru ini, jika ada yang menganggap dia sudah kaya hingga tak perlu digaji. Itu benar! mereka telah kaya. Bayangkan, mereka setiap hari panen pahala dari amal-amal sholeh yang dikerjakan murid-muridnya.  Mungkin, itu satu-satunya motivasi mereka masih istiqomah sampai sekarang. Mereka meyakini janji-janji Tuhan dan Sang Utusan.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Terima kasih guru ngaji kami di kampung 😊
Maapkan kami yang belum pandai berterima kasih.

Semoga Allah sayangi dan membalas bu guru ngaji dengan kebaikan2.

Lela, 6 Oktober 2019

Related Posts

No comments:

Post a Comment