Bagikan Inspirasimu disini

Sunday, October 27, 2019

Gubernur Raih Best Overall

Gubernur Raih Best Overall

#provkalbar #kalbarbaru #beritakalbar


Repost @bang.midji

Hari selasa tgl 15 Oktober, saye memaparkan
tentang investasi dan potensi Kalbar, serta kebijakan yang
dilakukan untuk memacu pertumbuhan dengan capaian
akhir kesejahteraan.

Penilaian dilakukan oleh Koran Sindo dengan Juri mereka
yang berkompeten, salah satunya Dirjend Otonomi Daerah,
alhamdulilah Gubernur Kalbar mendapat nilai tertinggi
dalam program Indonesia Visionary Leader dan mendapat
predikat BEST OVERALL (detil di foto), artinya semua
aspek penilaian kita baik. semoga bisa menyemangati
percepatan perubahan kalbar

Tuesday, October 22, 2019

EKSPRESI CINTA

EKSPRESI CINTA

oleh: Aswan

Cemilan, Ya sekedar cemilan biasa. Harganya paling seribuan. Biasa saja, tidak ada yang spesial. Tapi percayalah, sampai hari ini saya tak tega memakannya. Lebih memilih menyimpannya manis dikamar. 

Baik. Izinkan saya menceritakan kisah tak penting ini.

Kemarin sore, selesai berjamaah sholat maghrib komplek tak jauh dari sya tinggal. Kala itu sudah bersiap hendak keluar, tiba2 saya dicegat oleh gerombolan anak-anak yang masing-masing memegang cemilan itu. Lalu satu persatu menyerahkan ke saya, gratis. "Ini bang.." "Dimakan ya bang.." saya setengah kaget.

Ada apa? Ada acara? Ada yang ulang tahun? Tidak! Tidak ada!
Atau, apakah semua jamaah dikasih? Sama, jawabannya juga tidak!

Saya tidak tahu pasti ada apa. Tapi sejenak saya tarik mundur ke beberapa beberapa hari sebelumnya, saat awal mulanya 1 anak menghadiahkan sebungkus snack. Hari berikutnya bertambah 2 anak yang memberi snack. Bertiga, berempat, berlima, hingga puncaknya kemarin malam itu. 5 bungkus cemilan plus 1 teh botol kukantongi. Sampai sekarang masih terbayang wajah2 polos itu menyerahkan hadiahnya satu persatu. Ah, rasanya ingin menatapnya lebih lama.

Sekali lagi. Cemilan-cemilan ini diberikan atas dasar apa?

Lagi, saya tarik mundur ke 3 pekan sebelumnya. Momen pertama kali bertemu dan menyapa bocah-bocah itu. "Assalamu'alaykum anak sholeh-sholehah" sambil tersenyum ku ucapkan itu. Tak lebih, hanya itu.

Mereka di awal-awalpun terheran, "Itu siapa sih, sok kenal banget" begitu mungkin pikir mereka.

Begitu terus, hingga sepekan berlalu baru kudengar respon balasan dari mereka. Mulai perlahan akrab, hingga beberapa kesempatan setelah maghrib saya urung pulang dari masjid, memilih duduk mendengar mereka cerita. Yah, meski ceritanya banyak ngawur-ngidul, tapi saya serius memperhatikan. Asik juga ternyata. Sesekali mereka bertanya, lalu kujawab ala bahasa anak2.

Pada titik ini saya menyimpulkan. Cukup bersikap ramah pada mereka, meski mereka masih bocah. Sesekali jadilah bagian dari mereka, dengar mereka bercerita. Tak perlu menyanggah, pasang telinga, tatap mereka dan mengangguk-angguk. Maka cinta dan sayang mereka dengan sendirinya tumbuh pada kita.

Terserah, jika menganggap persepsi ini berlebihan atau apalah.
Tapi bukankah anak kecil tak bisa berbohong akan ungkapan sayang mereka? Yah, meskipun wujud ungkapannya terkadang aneh.

Itu saja. 😁
Entah besok akan ada hadiah apalagi.

Wednesday, October 9, 2019

GURU NGAJI, DARI GENERASI KE GENERASI

GURU NGAJI, DARI GENERASI KE GENERASI

Oleh: Aswan

Ada yang masih ingat pemandangan ini?
Bergerombol, memacu sepeda, saling berteriak, "ayoo, siapa cepat sampai.."

Laki-laki berpeci dengan baju koko , anak perempuan berjilbab dengan tas selendang berisi Al-Qur'an IQRO'. Tak lama lagi, sautan demi sautan anak2 itu "Assalamu'alaykoom..." akan bergema didepan rumah guru ngaji mereka.

Ya, mereka tengah bersiap belajar Al-Quran pada buk guru ngaji yang baru saja selesai mandi, karna baru datang dari Ume (read : Ladang )

Kemarin, sewaktu pulang ke kampung halaman, saya dapati fenomena langka ini. Meskipun tak lebih dari 2 persen anak se-usia mereka yang turut. Karna sisanya tengah sibuk bermain atau menghadap gadget mereka.

Sungguh pemandangan yang indah. Terharu, saya jadi bernostalgia. Jadi teringat masa kecil dulu. STOP!! Sudah, sudah, bernostalgianya!
Kembali ke laptop.

Anak-anak itu, entah sudah generasi keberapa. Sedangkan guru ngajinya sama. Itu-itu saja. Lantas kemana anak2 generasi sebelumnya? Yah, berhenti. Hilang tanpa kabar, boro-boro mau ucap terima kasih.

Apa sebab?
Apakah guru ngaji minta kenaikan gaji? Hah, yang benar saja! Wong selama ini mereka digaji 1 rupiah saja tidak. Lalu apanya yang mau dinaikan?

Kadang saya juga bingung. Apa yang membuat mereka tetap mau mengajar. Bukankah mereka juga sibuk dengan segala rutinitasnya.

Tapi ada yang lebih mengherankan. Anda tau apa?
Saat orang2 berani membayar semahal-mahalnya agar anak mereka pintar Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Seni, de el el. Sementara untuk belajar Kitab yang menjadi penyelamat di akhirat justru banyak alasan. Bahkan gratis sekalipun!

Maap jika ada yang tersinggung! Tapi realitanya begitu, mau diapakan?

Kembali ke kampung...

Guru ini, jika ada yang menganggap dia sudah kaya hingga tak perlu digaji. Itu benar! mereka telah kaya. Bayangkan, mereka setiap hari panen pahala dari amal-amal sholeh yang dikerjakan murid-muridnya.  Mungkin, itu satu-satunya motivasi mereka masih istiqomah sampai sekarang. Mereka meyakini janji-janji Tuhan dan Sang Utusan.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Terima kasih guru ngaji kami di kampung 😊
Maapkan kami yang belum pandai berterima kasih.

Semoga Allah sayangi dan membalas bu guru ngaji dengan kebaikan2.

Lela, 6 Oktober 2019

Monday, October 7, 2019

SOPIR BUS YANG DIRINDUKAN

SOPIR BUS YANG DIRINDUKAN

Oleh : Aswan

....Untuk kesekian kalinya, saya menaiki bus guna mengantarku kembali ke tanah kelahiran. Transportasi antar kota ini memang masih menjadi idola, mungkin karna tarifnya yang terjangkau.

Dengan jadwal keberangkatan pukul 12 malam dari ibu kota provinsi, sejatinya tak ada masalah apa-apa, kecuali satu. Yakni sholat subuh.

Ya, selama ini saya selalu sholat subuh ditengah laju bus dengan kondisi badan bus yang bergoyang ditambah hembusan angin yang masuk dari jendela yang tak sengaja terbuka. Tak pernah! Hampir tak pernah berjamaah subuh di masjid. Memang, agama Islam memberi keringanan bagi para musafir untuk soal ini.

Hari ini, saya memilih bus berwarna hitam sepertinya belum lama selesai diproduksi alias masih baru. Tak tau diproduksi negara mana, tak penting juga.

Singkat cerita, pukul 04.13 saya terbangun dari terlelap, tak ada yang dipikirkan kecuali harus segera tayamum dan sholat di dalam bus.

WUSHHH!!! Tiba-tiba bus berhenti. Ada apa? Ada penumpang turun kah? Atau mogok kah? ah tak mungkin bus baru ini mogok. Lalu kenapa? Begitu pikirku dan puluhan penumpang lainnya merasa penasaran.

Diposisi paling depan, kulihat pak sopir berdiri dari singgasananya. Di ikuti seorang penumpang yang persis duduk dibelakangnya, juga ikut berdiri lalu keluar bus.

Pamandanganku pun tertuju ke arah kiri, ada sebuah bangunan megah disana. Lampu-lampunya terang benderang. Baru saja dari arah bangunan ini dilantunkan sebuah seruan. Pak sopir bus dan satu penumpang tadi menuju kesana! Iya, bangunan itu saya akrab menyebutnya Masjid.

Tunggu apalagi. Saya langsung menyusul mereka berdua. Tak lama 3 orang berikutnya ikut turun. Ingin pula merasakan nikmat luar biasa ini.

Ya, adalah nikmat besar mendapat kesempatan bersama nakhoda bus bisa berbaris rapi, rukuk dan sujud dengan irama serentak. Ah, andai semua pemimpin dinegeri ini seperti pak sopir.

Buat para sopir bus, yang mungkin membaca tulisan ini. Saya sedang tidak membuat perbandingan, tidak sama sekali. Tapi hanya sekedar menyampaikan apa yang saya pelajari barusan. Yakni tak ada panggilan yang lebih penting selain panggilan Tuhan. Tak ada sejarah rupiah lebih berharga dibanding apa yang Tuhan janjikan di hari kemudian.

Hari ini, sopir bus berkaos hitam dengan celana jeans biru itu telah menjadi guruku. Dan aku akan merindukannya 😊
SEORANG SARJANA S3, SUDAH JADI DOKTOR ATAU PROFESOR, DIA RELA MENINGGALKAN PEKERJAAN DUNIANYA, HANYA DEMI MONDOK UNTUK MEPELAJARI AL-QUR'AN DAN MENGHAFALKAN AL-QUR'AN 30 JUZ

*PADAHAL GAJI NYA BESAR*

DAN UMURNYA JUGA SUDAH LUMAYAN TUA, TAPI MASIH MAU BELAJAR MENDALAMI AL-QUR'AN

BELIAU MEMILIH UNTUK MONDOK BELAJAR AL-QUR'AN SEBAGAI PERSIAPAN MENGHADAP ALLAH NANTI

Tulisan Rektor ITS, Prof Joni Hermana di wall FB nya

Coba simak kutipan inspiratif di bawah ini yang menggugah... .

Dulu di kala aku kecil, aku sll mendpt peringkat 1 baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA...

Semua merasa senang, ibu & ayah pun sll memelukku dg bangga. Klrg sgt senang melihat anaknya pintar & berprestasi.

Aku masuk perguruan tinggi ternama pun, tanpa embel2 test.

Org tua & teman2 ku merasa bangga thd diriku.

Tatkala aku kuliah
*IPK ku sll 4 & lulus dg predikat cum laude*.

Semua bahagia, para Rektor menyalami ku & merasa bangga memiliki mahasiswa spt diriku, jgn ditanya ttg org tua ku, tentunya mrk org yg paling bangga, bangga melihat anaknya lulus dg predikat cum laude. Teman2 seperjuangan ku pun gembira. Semua wajah memancarkan kebahagiaan.

Lulus dr perguruan tinggi aku bekerja di sbuah perusahaan *Bonafit. Karirku sgt melejit & gajiku sgt besar*.

Semua pun merasa bangga dg diriku, semua rekan bisnisku sll menjabat tgn-ku, semua hormat & mnghargai diriku, teman2 lama pun sll menyebut namaku sbg slh satu org sukses.

Namun ada sesuatu yg tak prnh kudptkan dlm perjalanan hidup ku slm ini. Hatiku sll kosomg & risau. Perasaan sepi sll memghantui hari2ku. Ya.. aku terlalu mengejar duniaku & mengabaikan akhiratku...
*Aku sedih...........*

Ketika aku berikrar utk berjuang bersama barisan *Pembela Rasulullah Saw & ku buang sgl title keduniaanku* kutinggalkan dunia ku utk mengejar akhirat & ridhaNya. Seketika itu pula dunia terasa berbalik. Yaa... Dunia spt berbalik. Ku putuskan utk mrantau & memilih mempelajari *ilmu Al-Qur'an & hadist & kuhafalkan Al-Qur'an 30 juz*.

Semua org mencemooh & memaki diriku. Tak ada lg pujian, senyum kebanggaan, peluk hangat dll. Yg ada hanyalah cacian...

Terkadang org memaki diriku, *buat apa sekolah tinggi2 kalau akhirnya masuk pesantren dia itu org bodoh.....* Udh punya pekerjaan enak ditinggalin...

Berbagai caci & maki tertuju pd diriku, bahkan dr klrg yg tak jarang membuat diriku sedih... 😪

"Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal masuk pondok tahfidz..? Ga sayang apa udh dpt kerja enak, mau makan apa & dr mana lg..?
Kata mereka...

Ya.., pertanyaan2 itu trs menyerang & menyudutkan diriku.

*Hingga suatu ketika*

Ketika fajar mulai menyingsing ku ajak ibu utk shalat berjamaah di masjid, masjid tmpt dimana aku biasa mnjd imam.

Ini adalah shalat subuh yg akan sll ku kenang.

Ku angkat tangan seraya mengucapkan takbir. *Allaaahuu akbaar............*_
ku agungkan Allah dg seagung2nya.

Ku baca doa iftitah dlm hati ku, berdesir hati ini rasanya....

Kulanjutkan membaca...

*Al-Fatihah*
*Bismillahirrahmaanirrahiiim*, (smp disini hati ku bergetar ), ku sebut namaNya yg maha pengasih & maha penyayang..

*Alhamdulillahirabbil alamiin*...
Ku panjatkan puji2an utk Rabb semesta alam..

Kulanjutkan bacaan lamat2, ku hayati surah al-fatihah dg seindah2nya tadabur, *tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajahku*....

Berat lidah ku utk melanjutkan ayat, *Arrahmaanirrahiim*,
ku lanjutkan ayat dg nada yg mulai bergetar....

*Malikiyaumiddin*, kali ini aku sdh tak kuasa menahan tangisku.

*Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiin*, "yaa Allah hanya kpdMu lah kami menyembah & hanya kpdMu lah kami meminta pertolongan."

Hati ku terasa tercabik2, sering kali diri ini menuntut kpd Allah utk memenuhi kebutuhanku, tp aku lalai melaksanakan kewajibanku kpd-Mu...

Sampai lah aku pd akhir ayat dlm surah Al-Fatihah. Ku seka air mata & ku tenangkan sejenak diriku.

Selanjutnya aku putuskan utk membaca *Surah _Abasa*'_. Ku hanyut dlm bacaan ku, terasa syahdu, hingga terdengar isak tangis jamaah sesekali. Bacaan trus mengalun, hingga sampai lah *pada ayat 34. Tangisku memecah sejadi2nya*.

*Yauma yafirrul mar'u min akhii, wa ummihii wa abiih, wa shaahibatihi wa baniih, likullimriim minhum yauma idzin sya'nuy yughniih...*

Tangisku pun memecah, tak mampu ku lanjutkan ayat tsb, tubuhku terasa lemas....

Stlh shalat subuh selesai, dlm perjlnan plg, ibu bertanya : "mengapa kamu menangis saat membaca ayat tadi, apa artinya..?"

Aku hentikan langkahku & aku jelaskan pd ibu. Kutatap wajahnya dlm2 & aku berkata :

*Wahai ibu........*
Ayat itu mnjelaskan ttg huru hara padang mahsyar saat kiamat nanti, semua akan lari meninggalkan sudaranya...

Ibunya...
Bapaknya..
Istri & anak2nya..

Semuanya sibuk dg urusannya masing2.

Bila kita kaya org akan memuji dg sebutan org yg berjaya...,

Namun ketika kiamat terjadi apalah gunanya sgl puji2an manusia itu....

Semua akan meninggalkan kita. Bahkan ibupun akan meninggalkan aku...

*Ibu pun meneteskan air mata, ku seka air matanya...*

Ku lanjutkan, *Aku pun takut bu bila di Mahsyar bekal yg ku bawa sedikit..*

Pujian org yg ramai slm bertahun2 pun kini tak berguna lg...

Lalu knp org beramai2 menginginkan pujian & takut mendpt celaan. Apakah mrk tak menghiraukan kehidupan akhiratnya kelak...?

Ibu kembali memelukku & tersenyum. Ibu mengatakan, *betapa bahagianya punya anak spt dirimu...*

Baru kali ini aku merasa bahagia, krn ibuku bangga thd diriku...

Brbagai pencapaian yg aku dpt dulu, walaupun ibu sama memeluk ku namun baru kali ini pelukan itu sgt membekas dlm jiwaku.

*Wahai manusia sebenarnya apa yg kalian kejar..?*

*Dan apa pula yg mngejar kalian..?*

*Bukankah maut semakin hari semakin mndekat...?*

Dunia yg menipu jgn sampai menipu & membuat diri lupa pd negeri akhirat kelak...

*Wahai saudara2ku, apakah kalian sadar nafas kalian hanya bbrp saat lagi.......?*

*Seblm lubang kubur kalian akan digali..*

Apa yg aku & kalian banggakan di hadapan Allah & RasulNya kelak...?

*Wallahua'lam.......*

Wednesday, October 2, 2019

SURAT CINTA UNTUKMU DUHAI ANAKKU

SURAT CINTA UNTUKMU DUHAI ANAKKU

#surat #cinta #ayah #ibu #anak


Anakku...
Bila aku tua,
Andai aku jatuhkan gelas atau terlepas piring dari genggamanku, Aku berharap kamu tidak menjerit marah kepadaku,
Karena tenaga orang tua sepertiku semakin tidak kuat, Badanku pun sakit sakit.
Pandangan mataku semakin kabur. Kamu harus mengerti dan bersabar denganku.

Anakku
Bila aku tua,
Andai tutur kataku lambat/pelan dan aku tidak mampu mendengar apa yang kamu katakan, Aku berharap kamu tidak menjerit padaku,
"Ibu tuli kah ?",
"Ibu bisu kah?"
Aku minta maaf anakku.
Aku semakin MENUA...

Anakku...
Bila aku tua,
Andai aku selalu saja bertanya tentang hal yang sama berulang-ulang, Aku berharap kamu tetap sabar mendengar dan melayaniku, seperti aku sabar menjawab semua pertanyaanmu saat kamu kecil dulu, Semua itu adalah sebagian dari proses MENUA.
Kamu akan mengerti nanti bila kamu semakin tua.

Anakku...
Bila aku tua..
Andai aku berbau busuk, amis dan kotor,
Aku berharap kamu tidak tutup hidung atau muntah di depanku, Dan tidak menjerit menyuruh aku mandi.
Badan aku lemah, Aku tidak ada tenaga untuk melakukan semua itu sendiri.
Mandikanlah aku seperti aku memandikanmu semasa kamu kecil dulu.

Anakku...
Bila aku tua, seandainya aku sakit, temanilah aku, aku ingin anakku berada bersamaku, Dan ketika waktu kematianku sudah tiba, Aku berharap kamu akan memegang tanganku dan memberi kekuatan untuk aku menghadapi kematianku.
Jangan cemas.
Jangan menangis.
Hadapi dengan keridhaan.
Aku berjanji padamu.
Bila aku bertemu Allah,
Aku akan berbisik kepadaNya supaya senantiasa memberkati dan merahmati kamu karana kamu sangat mencintai dan taat padaku.

Terima kasih banyak karena mencintaiku...
Terima kasih banyak kerana telah menjagaku... Aku mencintai kamu lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri..


  • surat cinta untuk anak pertama
  • contoh surat cinta untuk anak sd
  • surat cinta untuk anak laki-laki
  • contoh surat motivasi untuk anak
  • surat ibu untuk anak lelakinya
  • contoh surat nasehat untuk anak
  • surat cinta ayah untuk anak perempuan
  • surat harapan untuk anak