Bagikan Inspirasimu disini

Wednesday, September 25, 2019

SANG TEKNISI SEBUAH BANGUNAN SIKAP

| Wednesday, September 25, 2019
Ada yang tak kalah penting dari sikap ramah kita saat menjalankan usaha. Apa itu? Sebentar lagi saya ceritakan.

Lagi-lagi saya belajar dari guru kehidupan. Bukan dosen atau profesor-profesor yang biasa saya temui di kampus. Tapi kali ini, sorang teknisi komputer.

Bang Ruli orang-orang memanggilnya, seorang teknisi komputer langgananku. Terakhir kali kemarin siang aku kesana, memperbaiki laptop sekaligus berbincang-bincang dengannya.

Sudah memasuki tahun ke tujuhnya menjalankan usaha ini: service laptop, jual-beli laptop second, perbaiki printer, dll. Saat ini sudah memiliki kios sendiri, meskipun masih ngontrak dengan biaya sangat murah. Di lokasi yang tak terlalu padat, walau masih di pusat kota. Tapi soal customer, jangan tanya! Tak pernah sepi.

Lebih mengherankan lagi, orang-orang yang melintas pada menyapa bang Ruli. Bisa dengan teriakan, "Hello bos..." atau dengan membunyikan klakson motor/mobil. "Wuih, hebat juga abang ni. Pada kenal semua orang2" begitu gumamku.

Sikap ramah dan murah senyum. Itulah modal bang Ruli. Saya pikir setiap pedagang, pebisnis, pengusaha, harus memiliki sikap ini. Bang Ruli benar-benar menerapkannya dengan baik, tak peduli pada siapapun, meskipun dia tau orang tak ada niat bertransaksi (read: nanya doang)

Bukan! Bukan itu yang ingin kusampaikan! Tapi ada yang tak kalah penting! Mungkin ini yang melandasi kepercayaan orang banyak padanya. Yakni sikap jujur dan amanah.

Dalam obrolan satu hari lalu dia bilang, "Menjadi teknisi godaannya juga besar Wan. Mudah saja saya bilang ke pelanggan biayanya segini, atau bisa saya tinggikan. Tapi saya tau itu ada pertanggung jawabannya". Saya menyimak serius dan mulai membetulkan kursi. Dia melanjutkan, "hal lainnya. Kalau mau, bisa saja saya menukar alat dalam laptop yang dititip kesini dengan alat yang jelek. Toh, orang gak bakalan tau". Dia diam sejenak.

"Lalu bang?tanyaku.
"Ya, tapi Allah menyaksikan semua"
Saya hanya mengangguk-ngangguk.
"Ada lagi bang?" Lagi ku tanya.

"mmh. Iya, kadang ada customer yang menaikan biaya di nota dari biaya aslinya. Ya, biar dia dapat lebih dari kantornya. Tapi sehalus mungkin abang tolak permintaannya"

Aku dibuat terdiam. Sambil melihat raut wajah penuh ketenangan bang Ruli. Dibaliknya, berdiri teguh sikap jujur dan amanah! Ya, lagi-lagi mengingatkan diri ini. Bukankah sebesar biji sawi pun keburukan juga ada pertanggung jawabannya. 

Terima kasih bang Ruli. Darimu ku belajar,  keteguhan sikap jujur dan amanah itu harus menjadi pondasi diri agar Allah ridho serta orang lain pun ridho

Related Posts

No comments:

Post a Comment