Bagikan Inspirasimu disini

Saturday, August 3, 2019

NILAI KETEGARAN

| Saturday, August 3, 2019


Oleh @aswan_berkarya
....

Rasa penasaran akhirnya mengantarkanku pada sebuah rumah sederhana ditepian kota Sanggau.

Pasalnya niatku ingin bertemu tak kesampaian saat sholat berjamaah di masjid. Hingga datang langsung kerumah bapak Ketua Masjid menjadi pilihan terakhir.

Pak Jam orang memanggilnya. Jamali Musni lengkapnya. Begitu sampai didepan rumahnya, terlihat seorang laki-laki berambut putih menggunakan celana pendek mendekat ke pintu setelah mendengar salamku.

Itulah pak Jam, beliau menyambut saya dengan senyumnya. Setelah mempersilahkan duduk, beliau meminta izin kebelakang, "Bapak pakai sarung dulu ya nak".

"Tadi rencana mau ketemu di Masjid" ungkapku.
Sambil tersenyum dia bilang, "Iya wan. Hari ini gak ke Masjid. Rasa sakitnya kambuh lagi"
"Memang sakit apa pak?" tanyaku yg semakin penasaran.

"Sejak 2016 tahun lalu divonis stroke. Kadang-kadang kaki ini nyeri banget Wan, gak bisa digerakan" jawab pak Jam.

Terjawab sudah rasa penasaranku. 2 tahun terakhir pak Jam menderita penyakit yang membuatnya tak dapat beraktifitas normal. Jika harus ke Masjid, dia harus menggunakan tongkat.

Praktis, dengan keadaan ini pak Jam kehilangan semua pekerjaannya. Mulai dari di PHK oleh sebuah perusahaan yang menjadi sumber penghasilannya. Hingga sampingannya sebagai tukang juga harus terhenti.

Suasana jadi haru biru.

"Selama ini tak bisa buat apa-apa Wan. Tapi Alhamdulillah tangan dan lisan ini masih bisa buat ngajarin anak dan cucu ngaji dirumah" tambah beliau.

Saya tak mampu berkata apa-apa saat itu.

Hingga terucap kalimat yang tak akan saya lupakan dari pak Jam: "Tapi dengan keadaan begini bapak juga bersyukur. Sejauh ini, hingga udah menjelang tua ini. Allah udah banyak memberi karunia kepada bapak. Dikasih ujian ini ya biar bapak gak lupa bersyukur..."

Masyaallah...jiwaku benar-benar ditampar saat itu.

Seolah tidak terjadi apa-apa pada si bapak.

Ketegarannya yang saya belajar malam itu, ya meskipun dia lebih berhak mengeluh atas keadaannya dibanding kita.

Dengan kehilangan fungsi kedua kakinya.  Adakah pak Jamli mengeluh? Meratap? Menjadi lemah? Jawabannya tidak!

Dengan kondisi seperti itu, pak Jamli tetap menjadi pribadi yang luar biasa, panutan di keluarga dan jamaah masjid.

Sikap itu pula mungkin yang menjadi alasan orang-orang masih mempercayakan pak Jamli sebagai ketua Masjid. Sampai sekarang, sampai detik kunjuanganku tadi malam.

Related Posts

No comments:

Post a Comment